5 fase rawan dalam pernikahan ini penting bagi kita ketahui untuk mengantisipasinya dari sekarang. Pernikahan adalah komitmen seumur hidup yang diharapkan bertahan selamanya. Namun, seperti halnya dalam kehidupan, perjalanan menuju pernikahan yang bahagia bisa menghadapi berbagai tantangan.
Saat membangun rumah tangga, wajar jika pasangan mengalami fase-fase yang rawan. Namun, menghadapi krisis pernikahan adalah bagian alami dari pertumbuhan hubungan. Jadi, jika kamu masih baru menikah, tak perlu khawatir jika menghadapi tantangan. Sebaliknya, hal itu menandakan bahwa hubunganmu sedang berkembang.
Lalu, apa saja fase-fase rawan tersebut? Berikut ini kami merangkumnya berdasarkan informasi dari laman Bright Side.
5 Fase Rawan dalam Pernikahan
Tahun Pertama Pernikahan: Tahap Realisasi

Tahap realisasi umum terjadi setelah 6-12 bulan hidup bersama, ungkap Rita DeMaria, seorang terapis pernikahan dan keluarga kepada Bright Side. Di fase tersebut kamu mulai melihat kekurangan pasangan diluar kebiasaannya yang bagimu kurang menyenangkan. Kekurangan pasangan tersebut jangan dijadikan alasan untuk saling menggugat, karena di fase tersebut kamu dan pasangan perlu belajar bekerjasama sebagai sebuah tim.
Kamu dan pasangan perlu saling berbicara jujur tentang kekurangan masing-masing untuk bisa saling menerima. Ingat, tidak ada pasangan yang sempurna sehingga kalian perlu belajar bahwa alih-alih mendebatkan kelemahan masing-masing, fokuslah dengan kelebihan yang dimiliki. Capailah kesepakatan dan kompromi apabila kekurangan dari masing-masing pribadi ternyata bisa dirubah secara perlahan-lahan. Pada poin ini, komunikasi merupakan hal yang penting diterapkan.
3-4 Tahun Menikah: “Zona Nyaman” yang Berbahaya

Fase rawan yang satu ini mungkin menjadi salah satu penyebab mengapa banyak pasangan bercerai di usia pernikahan sekitar 3 tahun. Penelitian yang dilakukan terhadap 2.000 pasangan menikah di Inggris menunjukkan bahwa dalam 3 setengah tahun, pasangan mulai menganggap remeh satu sama lain, dan berhenti mengatakan kalimat sayang satu sama lain.
Di masa ini setiap pasangan menemukan “zona nyaman” masing-masing. Di satu sisi, hal tersebut merupakan perasaan aman dan rileks yang luar biasa, namun di sisi lain, hal-hal tidak menyenangkan menjadi hal biasa dalam hidup mereka sehingga bisa menjadi hal yang berbahaya bagi hubungan.
Untuk itu, pasangan perlu saling mengesampingkan perasaan cuek mereka dan kembali membiasakan untuk saling memuji. Tumbuhkan lagi perasaan romantis dengan mengungkapkan rasa cinta atau memberikan kejutan-kejutan kecil.
5-7 Tahun Menikah: Fenomena 7 Tahun Pernikahan

Dalam psikologi barat, usia pernikahan 7 tahun adalah salah satu masa paling kritis dalam setiap pernikahan. Di waktu tersebut, pasangan sudah memiliki kehidupan yang baik, hubungan yang mapan, dan pasangan memperlakukan satu sama lain seolah-olah mereka sedang melakoni peran suami istri secara otomatis, yang merupakan kesalahan besar. Dampaknya, ketertarikan terhadap satu sama lain berkurang karena rutinitas. Untuk itu, pasangan perlu mempertahankan berlangsungnya komunikasi yang lebih tulus dan emosional.
Masalah kecil yang ada juga perlu diselesaikan secepat mungkin dan tidak membiarkannya berlarut-larut. Agar hubungan lebih fresh, kamu dan pasangan juga bisa merencanakan sesuatu yang bisa direalisasikan di masa depan, seperti berlibur, berencana membeli perabot baru, atau bahkan merenovasi rumah.
10-15 Tahun Menikah: Masa yang Sulit

Usia pernikahan ke-10 tahun menjadi ambang batas tersulit dalam hubungan. Pada periode waktu tersebut, perempuan mempunyai tanggung jawab yang sangat besar karena perlu mengurus anak, mengurus rumah, dan bahkan juga harus bekerja. Kurangnya waktu istirahat dari tanggungjawab tersebut membuat kualitas hubungan juga ikut menurun. Bahkan di masa tersebut suami mulai menganggap istrinya kurang menarik.
Jangan kalah dengan ego ya, Beauties. Di fase ini, kamu disarankan untuk lebih sering bercanda dengan pasangan serta fokus pada sisi positif pernikahan dan kelebihan yang dimiliki pasangan. Tidak perlu membandingkan kondisi pernikahanmu dengan kisah cinta orang lain karena setiap rumah tangga memiliki standar kebahagiaannya masing-masing.
20-30 Tahun Menikah: Krisis Paruh Baya dan “Perceraian Abu-Abu”

Berita tentang seseorang yang bercerai setelah 20 tahun pernikahan mungkin cukup mengejutkan banyak orang. Orang-orang berpikir jika pasangan bisa bertahan selama 20 tahun pernikahan, bukankah cukup mudah untuk mempertahankannya 10 tahun kedepan? Nyatanya, fase rawan juga terjadi di usia 20 – 30 tahun setelah menikah. Krisis 20 tahun pernikahan terjadi karena krisis paruh baya pribadi kedua pasangan.
Efeknya bertambah buruk dengan menyebutnya sindrom sarang kosong, yaitu ketika anak-anak tumbuh besar. Kebanyakan meninggalkan rumah keluarga sementara pasangannya tinggal sendirian, seperti pada awal hubungan mereka. Pasangan mungkin merasa pernikahan mereka telah habis karena misi utamanya telah selesai atau mengalami “perceraian abu-abu”.
Untuk mencegahnya, pasangan bisa mencari makna dari keberadaan satu sama lain. Jika hanya tinggal berdua saja sementara anak-anak sudah mandiri, maka kamu dan pasangan bisa lebih banyak menghabiskan waktu bersama. Seperti melakukan olahraga bersama, membuat tujuan baru atau bahkan berlibur bersama.
