Generasi Sandwich adalah istilah yang merujuk kepada individu yang menanggung tanggung jawab finansial dari dua generasi yang berbeda. Mereka seperti “sandwich” yang terjepit di antara tanggung jawab keuangan untuk generasi yang lebih tua dan yang lebih muda. Banyak orang, termasuk kamu, mungkin menghadapi situasi ini saat ini.
Tentu saja, tidaklah mudah mengelola beban finansial ini, terutama ketika melibatkan orang-orang yang kita cintai. Namun, kamu juga perlu mengintrospeksi kondisi keuangan pribadi mereka. Oleh karena itu, perencanaan keuangan yang baik sangatlah penting. Berikut beberapa tips perencanaan keuangan yang diperoleh dari laman US Wealth Management untuk generasi yang berada dalam posisi “Sandwich Generation”.
1. Lakukan Inventarisasi Kebutuhan

Sebagai generasi sandwich yang harus menanggung beban finansial pihak lain, kita perlu memahami seberapa besar kebutuhan diri kita sendiri dan kebutuhan orang yang kita tanggung.
Dalam hal ini, kebutuhan yang pertama kali harus diinventarisasi adalah kebutuhan diri sendiri. Proses ini juga termasuk menilai semua sumber pendapatan dan pengeluaran tiap bulannya. Buatlah se-spesifik mungkin guna mendapatkan gambaran yang jelas mengenai kebutuhan keuangan.
Jika inventarisasi kebutuhan keuangan pribadi selesai dilakukan, maka lanjutkan kepada orang tua. Buat perincian kebutuhan bulanan mereka. Bicarakan juga pada mereka tentang hal tersebut agar setiap perincian sesuai.
Jika sudah, maka dapat dilanjutkan pada kebutuhan generasi di bawah. Semisal untuk kebutuhan anak atau adik. Jika kebutuhan itu dapat diminimalkan, maka upayakanlah. Semisal memungkinkannya biaya pendidikan adik untuk digantikan dengan beasiswa kampus. Coba bicarakan dan upayakan.
2. Danai Diri Sendiri Terlebih Dahulu

Hal ini tidak mengartikan diri kamu egois, tetapi realistis. Keamanan finansial diri sendiri untuk masa depan sudah seharusnya menjadi prioritas utama dalam daftar keuangan. Kita haruslah berusaha bertanggung jawab terhadap diri sendiri terlebih dahulu sebelum bertanggung jawab kepada orang lain.
Mulailah menyisihkan pendapatan untuk ditabung sebagai dana pensiun dan dana masa kebutuhan masa depan lainnya. Kamu dapat mensiasatinya dengan memisahkan rekening tabungan pensiun/masa depan dan tabungan untuk kebutuhan sehari-hari.
3. Mendorong Pihak Lainnya untuk Berkontribusi

Usia dewasa produktif adalah hal yang potensial untuk menghasilkan sumber daya keuangan. Jika saat ini kamu sedang menanggung anggota keluarga yang seyogianya sudah dewasa dan berada pada usia produktif, maka doronglah dia untuk dapat berkontribusi juga. Mungkin dia membutuhkan arahan akan hal tersebut.
Oleh karenanya, beban keuangan terhadap dirinya dapat diminimalkan dengan membantunya berkontribusi dalam keuangan. Contohnya, cobalah untuk mencarikannya pekerjaan atau mengarahkannya untuk membuat CV dan melamar pekerjaan tertentu. Ini dapat menjadi langkah awal agar beban finansial yang dirasakan dapa berkurang.
4. Membagi Tanggung Jawab Keuangan

Tidak selamanya bertahan dalam tuntutan tanggung jawab finansial adalah pilihan. Oleh karenanya, opsi membagi tanggung jawab keuangan dengan anggota keluarga lainnya bisa dijadikan jalan lainnya. Mulailah melakukan cross check terkait dengan anggota keluarga mana saja yang memungkinkan untuk bisa mengambil sebagian beban keuangan.
Ini tidak melulu harus dalam bentuk uang, kok. Jasa juga bisa. Semisal selama ini terdapat beban keuangan untuk membayar biaya pengasuhan anak. Jika terdapat anggota keluarga yang bisa mengasuh secara gratis, ini dapat diberdayakan untuk mengurangi beban keuangan tadi.
5. Melindungi Pendapatan dan Aset

Semua kemungkinan tidak mengenakkan terkait kondisi keuangan pasti ada. Entah itu mengalami PHK dari tempat kerja atau minusnya keuntungan dari usaha yang dijalankan. Oleh karena itu, upaya melindungi pendapatan dan aset dapat dilakukan.
Misalnya dengan mengambil asuransi kesehatan atau pendidikan. Dengan demikian, dapat membantu meminimalkan dampak jika suatu saat kondisi keuangan tidak berjalan sebagaimana mestinya.
