Beauty Privilege merupakan salah satu bentuk diskriminasi bagi perempuan dengan standar yang membebani. Ketika kamu sedang mencari peluang pekerjaan, baik melalui media sosial, aplikasi pencari kerja, grup WhatsApp, atau situs resmi perusahaan yang kamu targetkan, mungkin kamu pernah menemukan syarat lamaran yang menyebutkan “berpenampilan menarik” atau “good looking.” Ya, syarat semacam itu memang sering muncul dalam berbagai lowongan pekerjaan. Sebenarnya, hal ini merupakan salah satu bentuk keistimewaan berdasarkan penampilan, yang dikenal dengan istilah “beauty privilege.”
Beauty privilege adalah konsep yang digunakan untuk menggambarkan keuntungan atau keistimewaan yang diperoleh oleh seseorang karena kecantikan atau ketampanannya. Istilah ini merujuk pada praktik penerimaan yang lebih memihak kepada individu yang memiliki penampilan yang menarik, sehingga kemampuan dan kualifikasi mereka seringkali tidak menjadi prioritas utama. Pertanyaannya adalah, dari mana asal mula fenomena beauty privilege ini muncul dan mengakar dalam masyarakat? Mari kita eksplorasi lebih lanjut dalam ulasan berikut.
Standar Kecantikan Eurocentric
Selain adanya anggapan bahwa penampilan tidak selalu dianggap sebagai salah satu keberagaman yang harus dihormati dan dapat menghadirkan peluang untuk diskriminasi, dilansir dari An Injustice, standar kecantikan ini dibuat dengan standar perempuan Eropa yang rata-rata berhidung kecil atau mancung, berambut lurus, dan berkulit putih. Sedangkan orang yang tidak berkulit putih biasanya dianggap kurang cantik dan rawan ditindas.
Rasisme
Menyambung ke poin pertama, standar kecantikan Eurocentric ini merupakan dampak penjajahan Eropa yang melahirkan paham rasisme dan kebencian pada warna kulit dan kecantikan tertentu, Beauties. Orang Asia yang rata-rata bermata kecil atau sipit biasanya memperoleh perilaku buruk di lingkungan atau negara yang mengadopsi standar ini mentah-mentah.
Akibatnya, tekanan sosial dan rasisme tidak terhindarkan, justru dapat mempengaruhi penerimaan seseorang terhadap dirinya sendiri, membuat orang merasa terhakimi, dan mendapat perlakuan yang tidak pantas.
Pandangan Buruk terhadap Perempuan Bertubuh Besar

Masih berkaitan dengan poin pertama, dilansir dari The Daily Texan, tubuh besar dianggap merusak kecantikan. Hal ini berdampak pada seorang perempuan apabila menerima perilaku tidak pantas dari orang-orang di sekitarnya, karena membuatnya berpikir bahwa jika saja tubuhnya kurus, maka akan banyak orang yang mau berteman dengannya dan dia lebih bisa diterima dengan layak.
Lebih Sering Terjadi pada Perempuan

Jahatnya, standar penampilan menarik cenderung hanya dilimpahkan pada perempuan, meskipun ada pula kaum pria yang mengalami dampak dari beauty privilege ini. Di sisi lain, iklan produk pemutih dan pelangsing rata-rata ditargetkan untuk perempuan sehingga memunculkan pikiran bahwa kondisi tubuh yang dimiliki sejak lahir perlu ‘diubah’ sesuai standar yang berkembang di masyarakat secara global.
Pengaruh Media Sosial

Dilansir dari The Daily Wildcat, media sosial memberi tekanan mental kepada perempuan untuk menjadi kurus agar terlihat cantik. Hal ini didukung pula oleh kekurangpahaman perempuan tentang konsep tubuh yang normal itu seperti apa.
Sehingga, penting bagi perempuan untuk mencari pemahaman yang mampu membuat mereka mengerti bahwa kecantikan adalah menjadi diri sendiri dan menerima diri sendiri, memahami bahwa konsep kecantikan itu beragam. Dan yang terpenting, mencintai diri sendiri dan menerima diri sendiri juga harus ditanamkan dalam pikiran.
Mempengaruhi Kesehatan Mental
Dilansir dari Stylist, sikap diskriminatif dapat menimbulkan rasa malu, rendah diri, dan depresi pada perempuan yang merasa dirinya berpenampilan kurang menarik atau memiliki kekurangan fisik. Sebab, perilaku dari pihak perusahaan yang mencari karyawati baru, mungkin secara tidak sadar memilih untuk tidak mempertimbangkan secara serius bakat dari mereka yang wajah atau tubuhnya dianggap tidak cukup menarik.
Padahal, harga diri, kepercayaan diri, dan profesionalisme adalah hal yang lebih penting dijadikan pedoman dalam mencari karyawati baru atau memberikan promosi pada karyawati berdasarkan kinerja yang dapat dinilai secara objektif.
Beauty privilege sendiri kerap menjadi sorotan di kalangan masyarakat. Namun belakangan ini, beberapa perusahaan sudah mulai mengganti istilah ‘berpenampilan menarik’ dengan kata ‘percaya diri tampil di depan kamera’. Menurutmu, sudah cukup sopan saat dibaca dan benar-benar diwujudkan saat mencari karyawan baru belum
