Memaafkan atau tidak kesalahan seseorang dapat mempengaruhi kesehatan fisik dan mentalmu. Menurut data kesehatan yang dipublikasikan dalam Psychology Today, disebutkan bahwa pengalaman rasa sakit dan kekecewaan yang diakibatkan oleh tindakan orang lain tidak hanya berdampak pada kondisi emosional dan mental seseorang, tetapi juga memiliki konsekuensi fisik yang dapat diukur.
Dampak ini melibatkan perubahan dalam detak jantung, tekanan darah, dan respons sistem kekebalan tubuh. Perubahan-perubahan ini meningkatkan risiko terkena berbagai masalah kesehatan fisik dan gangguan emosional, seperti depresi dan penyakit jantung. Belajar untuk memberikan pengampunan terhadap kesalahan orang lain dapat membantu mengurangi tingkat stres dan dampak negatif yang mungkin terjadi.
Pengaruh Sikap Memaafkan Terhadap Kesehatan
Seperti yang sudah diungkapkan sebelumnya, ketika kamu tidak memaafkan kamu adalah orang yang paling terluka. Bagaimana tidak, tiap langkahmu akan selalu diiringi kekesalan, kemarahan, kekecewaan, dan hal-hal negatif lainnya.
Susah memaafkan akan membuat kamu mengalami hal-hal berikut ini:
- Membawa kemarahan dan kepahitan ke dalam setiap hubungan dan pengalaman baru.
- Begitu tertutup dan dibayangi kesalahan masa lalu sehingga kamu tidak bisa menikmati hari ini.
- Menjadi depresi atau cemas.
- Merasakan bahwa hidup tidak memiliki makna atau tujuan.
- Kehilangan koneksi yang berharga dan menjadi pribadi yang tertutup.
Sebaliknya, jika kamu sudah melepas maaf, kamu akan mengalami ketenangan pikiran. Pengampunan dapat membuat kamu memiliki hubungan yang lebih sehat, meningkatkan kesehatan mental, mengurangi cemas, stres, dan permusuhan, menurunkan tekanan darah, meminimalisir gejala depresi, meningkatkan imun tubuh dan kesehatan jantung, serta rasa percaya diri.
Bagaimana Caranya?
Memaafkan adalah suatu komitmen untuk proses perubahan yang dipersonalisasi. Untuk beralih dari rasa sakit dan kecewa ke sikap memaafkan, kamu dapat memulainya dengan tahapan ini:
- Kenali nilai pengampunan dan bagaimana hal itu dapat meningkatkan kehidupanmu.
- Identifikasi apa yang perlu disembuhkan dan siapa yang perlu diampuni dan untuk apa.
- Pertimbangkan untuk bergabung dengan kelompok pendukung atau menemui profesional kesehatan.
- Akui emosimu tentang luka yang kamu alami dan bagaimana itu memengaruhi perilakumu. Berusahalah untuk melepaskannya.
- Keluar dari pikiran kalau kamu adalah korban.
Memaafkan bisa menjadi tantangan dan kamu bisa melatihnya dengan cara mengembangkan empati. Empati adalah menempatkan diri pada “sepatu” orang lain alias melihat situasi dari sudut pandang orang lain.
Tanyakan kepada diri sendiri mengapa dia berperilaku sedemikian rupa. Mungkin kamu akan bereaksi sama jika menghadapi situasi yang sama. Renungkan saat-saat kamu telah menyakiti orang lain dan mereka yang telah memaafkanmu.
Menulis dalam jurnal, berdoa atau menggunakan meditasi tau berbicara dengan seseorang yang kamu anggap bijak, dan tidak memihak akan membuatmu semakin memahami arti memaafkan. Sadarilah bahwa memaafkan adalah suatu proses, bahkan luka kecil mungkin perlu ditinjau kembali dan dimaafkan berulang kali.
Apakah itu berarti kamu harus menjalin hubungan dengan orang yang kamu maafkan? Jawabannya adalah tidak selalu, apalagi ketika orang tersebut perilakunya tidak berubah. Membuat orang lain mengubah tindakan, perilaku, atau kata-katanya bukanlah tujuan dari memaafkan. Pikirkan bagaimana memaafkan dapat mengubah hidupmu dan membawa kedamaian, kebahagiaan, serta penyembuhan emosional dan spiritual.
