Siklus menstruasi pada wanita dipengaruhi oleh berbagai hormon yang bekerja dalam sinkronisasi kompleks. Hormon utama yang berperan dalam mengatur siklus ini meliputi hormon gonadotropin yang disebut FSH (Follicle-Stimulating Hormone) dan LH (Luteinizing Hormone), serta hormon seks wanita, estrogen, dan progesteron. Pada awal siklus, FSH merangsang ovarium untuk merangsang pertumbuhan folikel ovarium dan produksi estrogen. Tingginya estrogen memicu pelepasan LH, yang memicu ovulasi, yaitu pelepasan sel telur dari ovarium.
Berikut penjelasannya lebih lengkapnya.
Hormon yang Memengaruhi Fase Siklus Menstruasi
Ada beberapa hormon yang dapat memengaruhi fase siklus menstruasi, yaitu:
1. Hormon estrogen
Hormon ini memiliki peran yang cukup penting untuk proses ovulasi. Estrogen juga memiliki pengaruh yang cukup besar dalam perubahan tubuh ketika anak beranjak remaja dan memasuki masa pubertas.
2. Hormon progesteron
Progesteron bekerjasama dengan estrogen untuk mengoptimalkan siklus reproduksi serta mempersiapkan kemungkinan proses pembuahan.
3. Follicle stimulating hormone
Hormon ini dibuat dan dilepaskan oleh kelenjar pituitari. Hormon ini memiliki peran dalam perkembangan dan reproduksi seksual. Adanya hormon ini dalam jumlah yang tepat memengaruhi kondisi ovarium, sehingga terkait dengan siklus menstruasi pada wanita.
4. Luteinizing hormone
Hormon ini dapat merangsang perubahan ovarium untuk mempertahankan siklus menstruasi dan menjaga kehamilan. Lonjakan hormon ini membuat ovarium melepaskan sel telur yang matang selama siklus menstruasi.
5. Gonadotropin releasing hormone
Hormon inni secara tidak langsung akan merangsang estrogen dan progesteron dalam tubuh. Di tengah siklus menstruasi, tubuh akan melepaskan estradiol yang memengaruhi peningkatan produksi gonadotropin releasing hormone.
Peningkatan hormon ini juga meningkatkan luteinizing hormon dan memicu penurunan follicle stimulating hormone. Adanya perubahan ini menyebabkan ovulasi pada tubuh.
Fase Siklus Menstruasi
Ada beberapa fase siklus menstruasi yang perlu kamu ketahui, yaitu:
1. Fase menstruasi
Fase ini bermula ketika sel telur dari siklus sebelumnya tidak melalui proses pembuahan. Kondisi ini membuat proses kehamilan tidak terjadi. Dengan begitu, hormon estrogen dan progesteron menurun. Lapisan rahim yang menebal, sehingga tidak diperlukan lagi oleh tubuh. Lapisan tersebut akan keluar melalui vagina dalam proses menstruasi.
Selama menstruasi, kamu akan melepaskan kombinasi darah, lendir, dan jaringan dari rahim. Lalu, berapa lama siklus menstruasi yang normal? Umumnya, wanita akan mengalami siklus menstruasi selama 21-35 hari.
2. Fase folikuler
Tahap folikuler bermula pada hari pertama menstruasi. Fase ini juga membuat hormon perangsang folikel keluar dari kelenjar pituitari. Hormon ini merangsang ovarium untuk mengeluarkan folikel. Umumnya, folikel mengandung telur yang belum matang.
Telur yang sehat akan matang. Sedangkan folikel yang tersisa akan kembali terserap ke dalam tubuh. Folikel yang matang memicu lonjakan estrogen yang mengentalkan rahim.
3. Fase ovulasi
Ketika estrogen meningkat, maka kelenjar pituitari akan melepaskan hormon luteinizing. Inilah yang memulai proses ovulasi. Saat ovulasi, telur yang sudah matang berjalan menuruni tuba falopi menuju rahim untuk proses pembuahan. Fase ovulasi ini merupakan waktu di mana wanita bisa mendapatkan kehamilan. Sel telur dapat dibuahi setelah 24 jam dikeluarkan. Setelah lebih dari satu hari, sel telur akan mati atau larut jika tidak melalui proses pembuahan.
4. Fase luteal
Fase luteal dikenal juga sebagai fase pramenstruasi. Setelah folikel melepaskan telurnya, maka folikel akan berubah menjadi korpus luteum. Kondisi tersebut membuat tubuh melepaskan hormon, terutama progesteron dan estrogen. Peningkatan kedua hormon tersebut membuat lapisan rahim kembali menebal dan siap menerima sel telur untuk pembuahan.
Jika kamu mengalami kehamilan, maka tubuh akan memproduksi human chorionic gonadotropin (hCG) yang bisa terdeteksi saat wanita mengalami kehamilan. Sedangkan jika tidak hamil, maka estrogen dan progesteron kembali mengalami penurunan yang kembali memicu fase pertama, yaitu menstruasi.
