Dalam perayaan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke-78 di Istana Negara, Tari Cetik Kipas Melinting, sebuah tarian daerah asal Kabupaten Lampung Timur, kembali memukau penonton. Meskipun lebih dikenal dengan nama Tari Melinting, tarian ini tetap menghiasi perayaan dengan kemegahan budaya Lampung.
Nama “Tari Melinting” sendiri mengambil nama dari daerah Melinting yang kini berada di wilayah administratif Kabupaten Lampung Timur. Menurut peneliti seni tari Indra Bulan dari Universitas Lampung, dalam Jurnal Seni Tari tahun 2019, Tari Melinting lahir pada abad ke-16 pada masa pemerintahan Keratuan Melinting.
Asal-usul Tari Cetik Kipas Melinting
Awalnya, tarian ini diciptakan untuk upacara adat kerajaan dengan berbagai persyaratan yang harus dipenuhi untuk mempertunjukkannya. Namun, seiring perubahan zaman, Tari Melinting telah bertransformasi menjadi pertunjukan yang bisa dinikmati oleh masyarakat luas, termasuk sebagai bagian dari penyambutan tamu penting atau perayaan pernikahan.
Perkembangan ideologi dan budaya telah membentuk kembali tarian ini, termasuk busana, gerakan, dan iringan musiknya, sesuai dengan perkembangan zaman. Gerakan Tari Melinting saat ini memiliki variasi antara penari putra dan penari putri.
Gerakan penari putra melibatkan serangkaian langkah seperti babar kipas, jong sumbah, sukhung sekapan, balik palau, kenui melayang, ciduk, salaman, suali, niti batang, lutcat kijang, dan lapah ayun. Sementara gerakan penari putri mencakup babar kipas, jong sumbah, sukhung sekapan, timbangan/terpipih mabel, melayang, nginyau bias, nginjak lado, nginjak tahu manuk, dan lapah ayun.
Pengenalan tarian ini mengalami penyesuaian dalam busana, dengan penari putra mengenakan kopiah emas dan setelan teluk belanga yang didominasi warna putih, sementara penari putri mengenakan busana siger bercadar Melinting dengan sanggul, gelang burung, baju kebaya kurung, dan selendang putih.
Iringan musik Tari Melinting melibatkan instrumen bernada talo ballak (kulittang) dan tetabuhan. Dua properti penting dalam tarian ini adalah sepasang kipas yang digunakan oleh penari putra dan putri.
Makna Tari Cetik Kipas Melinting
Tari Cetik Kipas Melinting mengandung makna yang mendalam. Sejarah yang ditulis Sultan Ratu Idil dari Keratuan Melinting menyatakan bahwa tarian ini melambangkan keperkasaan putra Lampung dalam membela keluarga, serta kelembutan dan kehalusan budi pekerti masyarakat Lampung melalui gerakan penari putri.
Tari Melinting juga memancarkan sikap ramah dan hangat, menjadikannya pilihan yang sering ditampilkan dalam acara resmi untuk menyambut tamu penting. Dengan keindahan budaya yang diwujudkan melalui gerakannya yang memikat, Tari Cetik Kipas Melinting terus menjadi warisan berharga yang memperkaya khazanah seni tari Indonesia.
