Mitos dan fakta vaksin DBD ini penting bagi kita untuk mengetahuinya. Demam berdarah dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit umum yang sering terjadi di daerah tropis, termasuk di Indonesia. Penyakit ini penyebabnya oleh infeksi virus dengue yang penularannya melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti.
Awalnya, DBD biasanya menunjukkan gejala yang mirip dengan flu biasa, seperti demam, kelelahan, dan nyeri otot. Namun, jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat memburuk secara signifikan. Dalam kasus yang parah, DBD dapat menyebabkan pendarahan serius, penurunan tajam dalam tekanan darah yang dapat menyebabkan syok, dan dalam beberapa kasus yang ekstrem, bahkan dapat menyebabkan kematian.
Salah satu langkah pencegahan yang efektif adalah melalui vaksinasi terhadap DBD. Namun, masih ada perdebatan mengenai keamanan vaksin ini. Untuk mendapatkan informasi yang akurat dan lengkap, penting untuk memahami mitos dan fakta seputar vaksin DBD. Simak penjelasannya di bawah ini.
Mitos dan Fakta Vaksin DBD yang Perlu Kamu Tahu!
Vaksin DBD terancang untuk membentuk antibodi dari infeksi virus dengue. Cara kerjanya dengan merangsang sistem kekebalan tubuh untuk menghasilkan perlindungan terhadap virus dengue. Ketika seseorang vaksin, tubuh akan mengenali virus dengue dan memproduksi antibodi untuk melawannya.
Jika tubuh kemudian terpapar virus dengue secara alami, antibodi tersebut akan membantu melawan infeksi. Dengan begitu, komplikasi serius akibat DBD bisa diminimalisir. Meskipun tidak memberikan perlindungan penuh, vaksin ini tetap dianggap sebagai langkah yang penting dalam mengendalikan penyebaran penyakit DBD.
Dalam beberapa tahun terakhir, vaksin DBD dengue dengan merek Dengvaxia telah menjadi sorotan utama dalam diskusi kesehatan masyarakat. Pasalnya, menurut evaluasi BPOM, pemberian vaksin Dengvaxia pada individu yang belum pernah terinfeksi virus dengue sebelumnya dapat menyebabkan DBD berat dan peningkatan risiko rawat inap yang lebih tinggi.
Akan tetapi, vaksin Dengvaxia pada individu yang sudah pernah terinfeksi virus dengue sebelumnya dengan usia 9-16 tahun tidak akan menyebabkan efek samping tersebut dan justru mendapat manfaat yang positif. Sebagai alternatif, vaksin Qdenga menjadi pilihan yang lebih aman karena bisa memberikannya kepada yang sudah pernah terinfeksi dengue maupun belum. Vaksin ini juga aman untuk anak-anak usia 6 tahun sampai dewasa hingga berusia 45 tahun.
Efek samping yang timbul pun ringan, sama seperti pemberian vaksin pada umumnya, yaitu nyeri atau kemerahan pada tempat suntikan. Nah, kondisi ini biasanya akan mereda dalam beberapa hari.
