3 kebiasaan pemicu diabetes pada anak ini wajib bagi pra orang tua ketahui. Meskipun diabetes sering berkaitan dengan orang dewasa, anak-anak juga rentan terkena penyakit ini. Saat ini, semakin banyak anak yang terdiagnosis menderita diabetes.
Diabetes tipe 2 pada anak berbeda dengan tipe 1, karena dapat terpicu oleh gaya hidup yang tidak sehat. Beberapa kebiasaan orang tua yang tidak menyadari dapat memicu diabetes tipe 2 pada anak. Menurut laporan dari CNN Indonesia, ada tiga kebiasaan orang tua yang bisa tanpa disadari memicu diabetes pada anak. Ayo kita simak!
3 Kebiasaan Pemicu Diabetes pada Anak
1. Memberi Banyak Asupan Gula pada Anak

Anak-anak memang menyukai makanan yang manis-manis. Namun, jangan sampai orang tua juga terlalu banyak memberi asupan gula pada anak. Meskipun gula sebagai sumber energi yang penting bagi tubuh, para orang tua tetap wajib mengatur konsumsi gula pada anak.
Dokter anak subspesialis endokrinologi, Jose R.L Batubara menyarankan agar jumlah karbohidrat atau sumber energi untuk anak sebesar 40 persen dari kebutuhan kalori harian. Karbohidrat juga akan diolah jadi glukosa dalam tubuh dan memiliki indeks glikemik lebih rendah dari gula biasa.
2. Makanan sebagai Iming-iming Ketika Anak Rewel
Ketika anak sedang rewel, sering kali para orang tua berusaha mendiamkan anak dengan mengiming-iminginya makanan. Meski tidak sepenuhnya salah, tetapi sering kali makanan atau minuman yang diberi tersebut tinggi kalori. Padahal, hal tersebut bisa berisiko membuat anak jadi kegemukan dan memicu diabetes. Selain itu, hal ini juga bisa berpengaruh pada mental seorang anak.
3. Menjadikan Makanan sebagai Hadiah

Menjadikan makanan sebagai hadiah atas prestasi anak sering kali menjadi kebiasaan orang tua yang bangga pada anaknya. Namun, psikolog anak dan remaja di Personal Growt, Monica Sulistiawati tidak menganjurkan makanan untuk dijadikan hadiah.
Pasalnya, anak bisa menganggap bahwa dengan prestasi atau keberhasilan, ia bisa makan sepuasnya. Hal ini bisa berdampak negatif saat anak sudah dewasa. Nantinya anak akan sulit mengendalikan perilaku makan, gangguan psikologis atau gangguan makan seperti bulimia atau anoreksia.
