Normalkah seseorang tak buang air besar setiap hari? Mungkin pertanyaan ini seringkali terlintas di pikiran kita. Folasade May, seorang ahli gastroenterologi, menegaskan bahwa keyakinan tersebut sebenarnya hanya merupakan salah satu kesalahpahaman. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, seberapa sering sebaiknya seseorang buang air besar dalam seminggu agar tetap menganggap sehat?
Normalkah Seseorang Tak Buang Air Besar Setiap Hari?
BAB seminggu tiga kali masih dianggap normal

Ada sebuah kepercayaan kuno yang mengatakan bahwa buang air besar setiap hari akan membuat tubuh menjadi lebih sehat. Tetapi faktanya, beberapa ahli mengatakan tidak ada frekuensi buang air besar yang tetap atau normal. Buang air besar (BAB) tiga kali sehari tidak berarti sistem pencernaan lebih sehat daripada yang hanya BAB dua kali seminggu. Namun, perubahan kebiasaan buang air besar yang harus menjadi perhatian.
Jika biasanya dalam seminggu buang air besar sebanyak 4 kali dan tiba-tiba mengalami kesulitan BAB atau lebih sering dari biasanya, perlu kamu perhatikan dan lekas mencari pertolongan medis. Folasade May mengungkapkan, buang air besar tiga kali dalam seminggu masih mengategorikan normal dan aman untuk kesehatan.
‘Kebanyakan orang bisa buang air besar antara tiga kali sehari hingga tiga kali seminggu. Apabila masih berada dalam rentang tersebut, kami anggap normal.”, ungkap May, mengutip CNN.
Sementara spesialis gizi klinik dari RS Pondok Indah (RSPI), dr Juwalita Surapsari, MGizi, SpGK, mengatakan tidak terbiasanya buang air besar setiap hari bisa karena faktor genetik. Namun untuk melihat masih normal atau tidak, bisa berpacu pada sela hari orang tersebut BAB. Menurutnya, kriteria kapan seseorang konstipasi atau sulit BAB adalah minimal tiga kali dalam seminggu.
Di sisi lain, menurut Trisha Pasricha seorang ahli gastroenterologi Rumah Sakit Umum Massachusetts dan instruktur kedokteran di Harvard Medical School, sering atau tidaknya seseorang buang air besar terpengaruh oleh pola makan, hidrasi, stres, usia, hingga penggunaan obat.
Alih-alih hanya mengamati frekuensi BAB, perhatikan juga bentuk fesesnya!

Frekuensi buang air besar bukan satu-satunya faktor untuk mengukur kesehatan pencernaan. Memperhatikan bentuk feses yang oleh tubuh keluarkan juga sama pentingnya. Profesor divisi gastroenterologi dan hepatologi di Mayo Clinic, Michael Camilleri, membenarkan hal itu. Bentuk feses, tampilan, dan konsistensi dari gerakan usus juga perlu kamu perhatikan.
Menindaklanjuti terkait penilaian kualitas feses, para medis menggunakan Bristol Stool Chart dengan mengklasifikasikan tinja dalam tujuh kelompok. Dari tujuh kelompok tersebut, jenis tinja yang paling sehat adalah jenis tiga dan empat. Tinja di klaster itu berbentuk seperti sosis dengan tekstur retak pada permukaannya.
Di samping itu, Trisha Pasricha menuturkan, buang air besar sebanyak tiga kali seminggu dengan konsistensi feses keras seperti kerikil masih menunjukkan bahwa sistem pencernaan bekerja dengan baik.
Biasakan untuk tidak keseringan menahan BAB

Sebagian dari kita pasti pernah menahan diri untuk tidak buang air besar. Entah karena masih berada di tempat yang jauh dari MCK atau sedang mengejar pekerjaan. Kebiasaan menahan buang air besar tidak menganjurkannya oleh para medis. Hal itu karena lancarnya buang air besar dapat terpengaruh oleh respon tubuh dalam mendorong feses keluar dari dalam tubuh. Waktu paling tepat untuk BAB adalah saat merasa ingin sekali mengeluarkannya.
Guna mendapatkan sistem pencernaan yang lebih sehat, dr. Luk Yiu Wing, spesialis gastroenterologi di The London Medical Clinic, Hong Kong menyarankan untuk meningkatkan asupan serat, olahraga lebih sering untuk membantu merangsang metabolisme, meningkatkan asupan cairan, dan mengelola stres.
